Kenapa Setiap Imlek Selalu Hujan? Cek Faktanya, Yuk! 

Ketika menyebut tentang Tahun Baru Imlek, yang terbesit dalam benak adalah kue keranjang, lampion merah, kembang api, dan tentu saja angpao. Namun, di tengah hiruk pikuk perayaan tersebut, ada satu fenomena yang seolah turut melekat, yaitu hujan selalu turun. Kenapa setiap Imlek selalu hujan? Mari kita bedah fakta di baliknya!

1. Imlek Selalu Beririsan dengan Puncak Musim Hujan Nasional

Fakta pertama, secara astronomis, penentuan tanggal Imlek mengikuti kalender Lunisolar atau perpaduan peredaran bulan dan matahari. Hal ini menyebabkan jatuhnya hari raya Imlek selalu bergeser setiap tahun, tapi tetap berada dalam rentang waktu antara akhir Januari – pertengahan Februari. Di Indonesia, periode ini bukanlah sekadar musim hujan biasa.

Menurut data BMKG, bulan Januari dan Februari merupakan puncak musim hujan nasional. Pada masa ini, angin monsun Asia—yang membawa banyak uap air—sedang bertiup kencang menuju wilayah Indonesia. Jadi, secara klimatologis, probabilitas terjadinya hujan saat Imlek memang sangat tinggi karena bertepatan dengan titik jenuh curah hujan tertinggi dalam setahun.

2. Banyak Imlek Bertepatan dengan Fase Bulan Baru

Alasan selanjutnya kenapa setiap Imlek selalu hujan adalah perayaannya yang jatuh pada hari pertama bulan pertama kalender Tionghoa, otomatis bertepatan dengan fase bulan baru (new moon). Pada fase ini, posisi bulan berada di antara bumi dan matahari. Secara ilmiah, posisi benda-benda langit ini mempengaruhi gravitasi dan pasang surut air laut. 

Banyak praktisi cuaca mencatat adanya fluktuasi tekanan atmosfer saat fase bulan baru yang dapat memicu pembentukan awan hujan. Kombinasi antara puncak musim monsun dan tarikan gravitasi bulan baru ini menciptakan kondisi yang sangat ideal bagi turunnya hujan saat Imlek. Tidak heran jika hujan seolah memiliki hubungan erat dengan Imlek.

3. Simbol Penyucian Menyambut Tahun Baru

Beralih dari fakta ilmiah (Sains) tentang turunnya hujan ketika Imlek ke sisi kultural. Masyarakat Tionghoa sendiri memiliki sudut pandang yang indah mengenai fenomena ini. Hujan yang turun saat Imlek dianggap sebagai simbol penyucian atau pembersihan. Tahun baru menjadi momen tepat meninggalkan segala hal buruk yang terjadi tahun lalu.

Air hujan diibaratkan sebagai pembersih alam semesta, terutama membasuh bumi agar manusia bisa memulai lembaran baru dengan kondisi yang suci dan segar. Itulah alasan alih-alih merasa terganggu akibat rencana bepergian terhambat, banyak masyarakat Tionghoa justru menyambut rintik hujan dengan senyuman penuh syukur. 

4. Air adalah Lambang Kekayaan dan Kemakmuran

Terakhir, kenapa setiap Imlek selalu hujan adalah karena keyakinan masyarakat Tionghoa itu sendiri. Dalam filosofi dan prinsip Feng Shui mereka, elemen air memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Air bersifat mengalir dan dianalogikan sebagai sumber rezeki (kekayaan) dan kemakmuran. Jadi, hujan ketika Imlek dianggap pertanda tahun tersebut akan dipenuhi keberuntungan (hoki).

Selain itu, mereka meyakini bahwa hujan yang turun di awal tahun berarti tanah akan subur, sehingga panen melimpah. Pada budaya Tionghoa, keberhasilan sektor pertanian ini diterjemahkan sebagai simbol kemakmuran.  Maka tak heran, muncul anggapan bahwa semakin deras hujan turun, maka semakin besar pula rezeki yang akan mengalir di tahun tersebut.

Sederhananya, turun hujan saat perayaan Imlek bukan masalah besar. Fenomena ini secara ilmiah disebabkan letak geografis Indonesia dan sistem penanggalan bulan menempatkannya di puncak musim hujan. Sementar berdasarkan filosofi, hujan merupakan narasi tentang pembersihan diri dan harapan akan kekayaan serta kemakmuran hidup yang melimpah ruah. Selamat merayakan Tahun Baru Imlek! 

Related Posts

Write a comment