Perkembangan teknologi digital turut berimbas pada perubahan di industri cetak desain alias sablon, terutama terkait teknik cetaknya. Dua metode paling populer adalah Direct to Film (DTF0 dan Direct to Garment (DTG) yang sama-sama menghasilkan objek berkualitas tinggi. Lantas, apa perbedaan DTF dan DTG yang membuat keduanya harus diaplikasikan secara berbeda?
1. Biaya Direct to Film Lebih Mahal Satuan
Salah satu perbedaan utama antara keduanya adalah biaya produksi. Bila kebutuhan cetaknya satuan, DTF menghabiskan biaya lebih tinggi. Namun, untuk cetak skala besar, justru lebih murah dari DTG. Sementara untuk modal peralatan dan bahan, DTG memang lebih mahal, tapi untuk cetak satuan estimasinya lebih murah dan mahal untuk cetak massal.
- Direct to Garment (DTG): Biaya utama per cetak pada DTG berasal dari tinta pigmen dan cairan pre-treatment (khusus untuk kaos berwarna gelap). Untuk satu kaos ukuran A3, estimasi biaya produksi bisa berkisar antara Rp20.000,00 – Rp40.000,00 bergantung pada kepadatan warna desain.
- Direct to Film (DTF): Di sisi lain, DTF memerlukan lebih banyak komponen cetak yaitu tinta pigmen, PET film (tempat desain dicetak), bubuk lem perekat (hot melt adhesive powder), dan proses pemanasan ganda. Total biaya bahan untuk satu cetakan ukuran A3 bisa berada di kisaran Rp30.000,00 – Rp55.000,00.
DTF lebih mahal untuk cetak satuan karena prosesnya berlapis dan Anda tidak hanya membayar untuk tinta, tapi juga untuk film transfer khusus dan bubuk perekat yang berfungsi sebagai pengikat antara tinta dan kain. Setiap cetakan memerlukan selembar film dan taburan bubuk perekat sebelum ditempel ke kain menggunakan mesin press panas.
2. Tekstur Hasil Cetak Direct to Garment Menyatu dengan Kain
Perbedaan DTF dan DTG yang signifikan adalah tekstur hasil cetak pada kain yang membuat DTG sebagai primadona. DTG menghasilkan cetakan yang menyatu dengan kain, sebab tintanya berbasis air yang dirancang untuk menyerap langsung ke dalam serat-serat kain, terutama katun. Hasil cetaknya jadi sangat lembut, tidak kaku, dan sirkulasi udaranya baik.
Sebaliknya, proses DTF pada dasarnya adalah mentransfer lapisan cetakan dari film ke atas kain. Bubuk perekat yang dilelehkan menciptakan sebuah lapisan solid yang mengikat tinta ke permukaan kain. Hasilnya, sablon DTF terasa seperti lapisan tipis mirip plastik atau karet yang menempel di atas bahan, tidak menyatu langsung dengan partikel kain.
3. Jenis Bahan Kain Direct to Film Banyak Variasi
Di sisi lain, fleksibilitas media merupakan keunggulan mutlak yang dimiliki oleh DTF. Teknik cetak ini bisa diaplikasikan ke berbagai jenis kain, mulai dari bahan polyester, katun, campuran seperti CVC, bahkan kulit sintetis. Sedangkan DTG terbatas pada kain 100% katun karena tintanya memang dirancang berikatan secara kimia dengan serat selulosa alami katun.
4. Ukuran Area Cetak Direct to Garment Max 30×40 (A3)
Batasan area cetak juga menjadi faktor pembeda yang penting. DTG terbatas pada tatakan atau platten dengan ketentuan area cetak maksimal 30 x 40 cm (A3), sedangkan ukuran yang lebih kecil adalah 21 x 30 cm (A4). Sementara untuk DTF lebih fleksibel karena menggunakan media cetak film berbentuk roll alias gulungan.
Biasanya pihak percetakan menyediakan pilihan cetak DTF dengan ukuran standar A3 dan A4 atau menggunakan hitungan panjang per meter alias per 60 cm. Ini membuat DTF lebih cocok untuk kebutuhan cetak dengan panjang bervariasi, meskipun untuk custom skala kecil menghabiskan biaya lebih besar dari DTG.
5. Ketahanan Sablon Direct to Film Lebih Awet dan Kuat
Perbedaan DTF dan DTG juga terletak pada durabilitasnya. Dalam hal daya tahan, DTF seringkali unggul karena lapisan pelindungnya yang solid. Lapisan ini memiliki ketahanan superior yang melindungi pigmen warna terhadap tarikan dan gesekan selama pencucian. Sehingga, puluhan kali cuci sekalipun, DTF cenderung tidak akan mengalami perubahan.
Sementara untuk DTG yang menyerap ke serat kain, ketahanannya bergantung pada proses curing (pemanasan akhir) dan perawatan saat pencucian. Gesekan dan tarikan saat pencucian, apalagi menggunakan deterjen dengan komposisi kimia keras mengakibatkan serat kain yang mengandung warna perlahan-lahan terkikis. Warna sablon, bahkan material utama, jadi lebih cepat pudar seiring waktu.
Namun, secara teknis, material kain dengan sablon DTF maupun DTG sebaiknya mendapatkan perawatan serupa untuk mengoptimalkan kekuatan cetaknya. Upayakan untuk mencuci memakai tangan, tidak langsung menjemur di bawah sinar matahari, dan membalik sablon ke bagian dalam ketika menyetrika. Hasilnya, sablon DTG maupun DTF akan bertahan lebih lama pada pakaian tersebut.
Rangkaian perbedaan DTF dan DTG di atas dapat memudahkan dalam menentukan media cetak sesuai kebutuhan atau preferensi Anda. Bila memerlukan cetak satuan berbahan kain katun, DTG merupakan pilihan tepat dengan hasil sablon super lembut. Sementara untuk cetak skala besar dengan kualitas baik dan pilihan material yang fleksibel, DTF lebih sesuai.